Malam ini aku kembali membayangkan wajah yang lucu itu. “Oh… Riaaan!” Ucapku. Tepatnya aku sedang melamunkan dia. Setiap malam pasti keadaanku seperti orang aneh, senyum-senyum sendiri, ketawa di tambah teriakan yang nyaring, kadang kala aku mengoceh hal yang tak penting. Dan setelah itu pasti ibu langsung menghampiriku, “KENAPA RIKA?”Teriak ia panik. Lalu aku hanya menjawab, “Lagi latihan Teater bu buat pementasan minggu depan, hehe.” Dan lagi malam-malam berikutnya hanya jawaban itu yang selalu keluar dari mulut ku. Tapi Ibu pernah bilang “Ibu heran, kamu rajin banget latihan teater di kamar, memangnya setiap minggu ada pementasan teater? Bukannya kamu juga tidak ikut ekskul Teater yah? Ini tidak normal sayang, kamu seperti orang gila. Hahaa”. Aku diam ternganga. “Kenapa kamu Bengong? Ibu hanya bercanda tuaan putri.”Ucapnya sambil tersenyum geli. “Semua itu hanya karena anakmu sedang jatuh cinta bu, sampai membuatnya ceria setiap hari.”Ucapku dalam hati. Hmm….
Suatu hari kelasku ramai oleh semua warga kelas, kebetulan guru nya sedang berhalangan masuk. Suasana kelas kali ini lebih ramai dari pada di Mall yang kebanjiran pengunjung gara-gara ada diskon gede-gedean. Aku memilih keluar kelas dan pergi ke perpustakaan, yang bikin aku tambah semangat aku bersama 5 teman perempuan dan 2 teman laki-laki salah satunya si rian lucu ikut.
Sampai di perpustakaan kami terpisah. Teman-temanku lebih tertarik membaca novel novel baru. Tetapi aku, Rian dan Doni lebih memilih mempelajari materi matematika yang kemarin Pak Imam sampaikan.
“Rian ini gimana sih?”Tanyaku .
“Yang mana?”
“Ini yang soal no 3, gimana penyelesainnya?”Tanyaku kembali.
“Oh yang ini… gini… Log32…”Tuturnya, dan ia terus menjelaskan materinya sampai aku benar-benar mengerti. Memang selain lucu, cakep, dia juga pinter makanya aku suka.
Tiba-tiba Doni menggebrak meja dan pergi begitu saja dengan wajah cemberut. Aku saling pandang dengan Rian, benar-benar aneh. “Doni kenapa sih yan?”Tanyaku. “Mungkin dia sedang ada masalah.”Jawab Rian dengan wajah cemas. “Eh sorry Rika kayanya gue harus cabut sekarang, ada urusan. Bye!”Ucapnya tiba-tiba masih dengan wajah cemas.
“Yah di tinggal padahal aku masih pengen lama bareng sama dia.”Ucapku lemas.
Keesokan hari aku berangkat pagi-pagi biar bisa berduaan sama Rian hehe, soalnya Rian itu anak paling rajin berangkat pagi di kelas. Selama menyusuri koridor jantungku berdebar kencang serasa mau copot. Anehnya, atau mungkin perasaan orang yang sedang jatuh cinta memang slalu begini kalau mau bertemu dengan sang pujaan hati ? Entahlah, yang jelas Rian adalah anak laki-laki pertama yang aku sukai, alias Cinta pertama.
Tak lama kemudian kelasku sudah di depan mata. Aku melangkah memasuki kelas, tapi aku memberhentikan diri sampai pinggir pintu. Aku melihat dua orang laki-laki membelakangi, sehingga ia tak menyadari ada orang yang akan masuk kelas. Aku mendengarkan sebuah pembicaraan.
“Kenapa kamu masih cemberut ?” Tanya seorang laki-laki dengan suara seraknya. Rasanya aku hafal suara ini, pikirku.
“Abis kemarin aku di cuekin, aku kan gak suka kalo ngeliat kamu sama perempuan lain. Sedangkan aku di diemin, kaya patung aja.”Ucap laki-laki satunya dengan logat manja.
“Iya maaf sayang, aku gak akan kaya gitu lagi.” Ucap laki-laki yang pertama bicara. Nah, sepertinya aku hafal sekarang sama suara itu…
Tiba-tiba kedua laki-laki itu berpelukan mesra. Dan ketika mereka menoleh, “Brakkk” dengan tidak sadar aku menjatuhkan buku-buku ku.
Mereka ternganga, dan aku masih bertanya-tanya apakah ini sebuah mimpi atau khayalan? Aku mencoba mencubit pinggang. “Awww, sakit”. Ini bukan mimpi, ini kenyataan.
“Rian? Doni? Kalian?”Ucapku. Mereka hanya diam dan terlihat merah padam wajahnya.
Tanpa pikir panjang aku langsung berlari pergi. Dan yang ku butuhkan sekarang hanya tempat yang membuat hati ini tenang. Agar bisa menghilangkan bayangan si Rian lucu dari fikiranku. Laki-laki yang selama 4 bulan ini aku sukai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar